Kamis, 08 November 2012

PROSES PERADILAN DALAM ISLAM

B. Proses Peradilan dalam Islam
Dalam proses peradilan, perkara akan diselesaikan jika telah melalui beberapa tahap, yaitu dimulai dari diajukannya gugatan, dilanjutkan dengan pemerksaan oleh qadhi, pembuktian atas gugatan dan pembelaan dari yang digugat, kemudian dilanjutkan dengan musyawarah dan keputusan dari seorang hakim.

1.  Permohonan (gugatan)
Pihak yang mengajukan permohonan disebut pemohon, sedangkan pihak yang dikenakan permohonan disebut termohon, Setidaknya ada beberapa cara dalam mengajukan gugatan, yaitu: dagvaarding (pengajuan permohonan melalui perantara advokat), cara biasa, cara langsung dan perwakilan, cara tertulis dan lisan, dan cara surat kuasa.

2. Pemeriksaan dalam sidang Pengadilan
Setwelah permohonan diajukan, seorang hakim melanjutkan dengan pemeriksaan atas berkas perkara, baik itu melalui pemangglan pihak-pihak, tangkisan, siding terbuka/tertutup, ataupun diberikannya hak ingkar atas termohon.

3. Pembuktian
Pembuktian merupakan syarat bagi seorang qadhi untuk memberikan keputusan hukum yang bersifat mengikat. Bukti juga dperlukan oleh seorang penuntut untuk membuktikan dakwaanya. Nabi saw. Bersabda:
Artinya: Bukti itu wajib bagi orang yang mendakwa, sedangkan sumpah itu wajib bagi orang yang didakwa “ (H.R Baihaqi dan thabrani)
Sesuatu tdak bisa menjadi bukti menjadi bukti, kecuali jika sesuatu tu menyakinkan dan pasti. Seseorang tidak boleh memberikan kesaksian kecuali kesaksiannya itu didasarkan pada sesuatu yang menyakinkan. Begitu juga terhadap sumpah, ia harus berasal dari sesuatu yang menyakinkan dan pasti.
Namun perlu diingat bahwa walaupun kesaksian tu berasal dari sesuatu yang menyakinkan, namun seorang qadhi tidak wajib menjatuhkan vonis berdasarkan kesaksian tersebut, sebab kesaksian hanya menyakinkan dari sisi saksi, namun tidak dari sisi qadhi. Setidaknya ada empat macam bukti yang bisa digunakan dalam proses peradilan Islam, yaitu :
a.    Pengakuan  
            Dari  Ibnu  Abbas ra. Ia meriwayatkan sebuah hadits tentang Maiz, bahwa Nabi saw. Bertanya kepada maiz bin Malik:
            “apakah benar apa yang telah disampaikan kepadaku tentang dirimu?”Maiz balik bertanya, “apa yang disampaikan kepada engkau tentang dirku?”Nabi saw. Menjawab, “Telah sampai berita kepadaku bahwa engkau telah berzina dengan budak perempuan keluarga si fulan.” Maz menjawab, “Benar.” Kemudian bersaksilah empat orang saksi. Lalu Rasulullah saw. Memerintahkan agar maiz dirajam, maka dirajamlah Maiz.”

b.    Sumpah
Sumpah telah ditetapkan dalilnya, sebagaimana disebutkan didalam urah al-Maidah ayat 89 dan sabda Rasulullah yang telah disebutkan srbelumnya.






c. Kesaksian
Allah SWT. Berfrman :




Artinya: “Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (diantaramu) Q. S. al-baqarah : 282)
Adapun mengenal jumlah saksi dalam suatu perkara adalah dua orang laki-laki. Hal ini berdasarkan firman Allah swt. Diatas.
            Dua saksi itu pun bisa berujud, seorang lak-laki dan dua orang wanita, sebagaimana frman Allah:
Artinya:jika tidak ada dua orang lelaki , maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan “ (Q.S. al-Baqarah: 282)
            Selan itu, Syara’ juga menjelaskan bahwa dua saksi tu adalah empat orang wanita, Sebab dua orang wanita setara dengan seorang laki-laki. Dari Abdullah bin Umar, dari Rasulullah saw berkata, “Kesaksian dua orang wanita setara dengan kesaksian seorang laki-laki.”
            Namun ada juga pengecualian tentang jumlah saks tersebut pada beberapa perkara. Seperti jumlah saksi pada kasus zina adalah empat orang saksi dan satu saksi dapat diterima atas ru’yatul hilal. Demikian juga dalam perkara-perkara yang tidak disaksikan kecuali oleh wanita. Maka daslam kasus semacam ini kesaksian seorang wanita diperbolehkan.

d.      Dokumen tertrulis yang menyakinkan  
Allah swt. Berfrman:








          Artinya : “Dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil disisi Allah dan lebh menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. “(Q.S. al-baqarah : 282)

4. Keputusan Hakim
Keputusan Hakim bersifat mengikat, atau memiliki kekuatan hukum, jika keputusannya itu dijatuhkan di dalam majelis persidangan. Keputusan hakim yang dkeluarkan di luar majelis persdangan tidak memiliki kekuatan hukum sama sekali. Hal ini berlaku hanya pada qadhi khusumat, bukan qadhi hisbah ataupun qadhi madzalim.


5. Mahkamah banding
Meskipun boleh membentuk mahkamah peradlan baik di level pusat, wilayah, dan daerah, akan tetapi tidak ada mahkamah bandng di dalam pandangan Islam. Keputusan mahkamah banding di dalam pandangan Islam. Keputusan mahkamah peradilan di level daerah tidak bisa digugurkan oleh mahkamah peradilan manapun, baik wilayah maupun pusat. Keputusan mahkamah pusat juga tidak bias digugurkan oleh mahkamah peradilan level di wilayah maupun daerah.
Berdasarkan ketetapan ini, tidak ada mahkamah banding tingkat I maupun tingkat II, Sebab, kedudukan mahkamah peradilan di level manapun adalah sama. Ketetapan yang di keluarkan seorang qadhi pada dasarnya adalah hokum Allah yang harus dilaksanakan. Seorang qadhi tidak boleh menganlir keputusan yang telah ditetapkannya. Ketetapannya juga tidak bisa dianulir oleh qadhi yang lan. Kecuali jika kepusannya bertentangan dengan Al-qur’an dan sunah.
Keputusan qadh bisa dianulirkan, jka keputusannya didasarkan pada hukum-hukum kufur, atau bertentangan dengan nas qath’I, atau memutuskan sesuatu namun bertentangan dengan fatwanya.
Jabir bin Abdullah pernah meriwayatkan bahwa ada seorang telah berzina dengan seorang wanita, lalu nabi saw, memerintahkan untuk mencambuknya. Kemudian dilaporkan bahwa orang tersebut pernah menikah, maka beliau saw. Memerntahkan agar orang tersebut dirajam.

6. Tata Cara mengadili
Ada ketentuan-ketentuan dalam  mengadili seseorang di dalam peradilan Islam. Di bawah ini akan dijabarkan sedikit bagaimana tata cara mengadili di dalam peradilan Islam.

a.     Setelah majelis persidangan ditetapkan, maka kedua orang yang bersengketa dihadirkan di ruang persidangan.
b.    Keduanya diminta duduk di hadapan qadhi.
c.     Selanjutnya, pihak pendakwa diminta untuk menyampaikan dakwaanya tanpa mengajukan bukti-bukti.
d.    Qadhi bertanya kepada yang terdakwa akan dakwaan yang disampaikan oleh pihak pendakwa mengakuinya, maka qadhi dapat segera memutuskan vonis sesuai dakwaan.
e.     Namun jka terdakwa menyangkal, qadhi meminta pendakwa menyampaikan bukti dan dakwaannya.
f.      Jika pendakwa tidak bisa membuktikan dakwaanya, maka terdakwa diminta untuk bersumpah, jika ia bersumpah, maka terdakwa bebas tuntutan. Namun jika menolak, qadhi dapat memberinya ancaman berupa hukuman.
g.     Namun jika terdakwa tetap menolak juga, maka dirinya dikenai hukuman berdasarkan dakwaan pendakwa.
h.    Yang perlu diingat, seorang qadhi tidak boleh menjatuhkan vonis berdasarkan    pengetahuannya. Ia hanya boleh memutuskan suatu perkara berdasarkan bukti yang diajukan kepadanya.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar