Sabtu, 20 Oktober 2012

PROSES PERUBAHAN SOSIAL

PROSES PERUBAHAN SOSIAL

Perubaan sosial dapat dilihat dari dua segi, pertama sebagai suatu fenomena yang terjadi dengan sendirinya sesuai dengan perkembangan faktor-faktor demografi, geografi, politik dan ekonomi yang menuntut adanya penyesuaian. Kedua, perubahan sosial sebagai suatu upaya yang direncanakan menuju pada pemenuhan kebutuhan peradaban.

A.     PENGERTIAN PERUBAHAN SOSIAL
Secara umum yang dimaksud dengan perubahan sosial yaitu terjadinya perubahan pada perangkat atau fungsi dari perorangan, kelompok, lembaga atau masyarakat.
Perubahan sosial adalah peristiwa yang terjadi secara terus-menerus sepanjang terjadi penerimaan dan tanggapan pada rangsangan baru.
Konsep yang paling dekat dengan perubahan sosial yaitu permasalahan sosial, perubahan sosial dan aksi sosial. Permasalahan sosial, adalah suatu kondisi atau gabungan kondisi dalam masyarakat yang dipandang membahayakan oleh anggota masyarakat dan dilakukan upaya baik melalui pemikiran maupun dengan tindakan yang bertujuan untuk menguranginya melalui aksi secara bersama. Perubahan sosial, adalah upaya merubah pada perangkat atau fungsi dari perorangan, kelompok dan lembaga dalam masyarakat. Aksi sosial adalah usaha bersama yang dilakukan untuk mengurangi atau mengatasi permasalahan sosial.

B.     KEKUATAN YANG MAMPU MELAKUKAN KONSERVASI DAN PERUBAHAN
Beberapa faktor yang bisa mendorong pada konservasi maupun perubahan antara lain faktor : 1) Budaya, 2) Organisasional, 3) Kelompok,          4) Perorangan sedangkan pada kesempatan lain dapat mempercepat perubahan. Contoh, yaitu faktor budaya di Jepang yang mampu mempertahankan Jepang sebagai bangsa yang homogen karena kurangnya kepercayaan pada kelompok lain di luar.
Perubahan memiliki dua dimensi, yaitu perubahan terbuka dan tertutup, perubahan yang ditunjukkan dan tidak di tunjukkan, perubahan yang disadari dan tdak disadari, perubahan forma dan tidak formal, perubahan bentuk dan fungsi.

C.     SIFAT-SIFAT PERUBAHAN
Dalam proses perubahan, terdapat hal yang sifatnya implisit dan laten dalam bentuk perilaku dan sikap yang dikembangkan melalui pengujian yang sifatnya sadar, serta pola baru menggantikan pola lama harus diperlakukan sedemikian rupa dalam upaya memelihara kelangsungan dan identitas sistem.
Hal yang mempengaruhi peubahan sosial yaitu sifat dari sosialisasi dan konformitas.

D.    PENYEBAB TERJADINYA PERUBAHAN

Pola perubahan yang dikemukakan Zalman, penyebab perubahan yang lebih dikenal dengan istilah cause, selain penyebab yang sifatnya man-made perubahan bisa pula terjadi karena faktor lain seperti halnya alam. Manusia memberikan sumbangan yang demikian kuat pada perubahan sosial didorong oleh kekuatan yang terdapat pada manusia sendiri yaitu kemampuan untuk menciptakan kehidupan yang secara idealis ditujukan untuk suatu kehidupan yang lebih baik.

Faktor yang menyebabkan perubahan sosial yang tidak direncanakan Mac Iver mengelompokkannya atas faktor biologis, faktor teknologi dan faktor budaya dalam perubahan sosial. Faktor biologis yang demikian kuat pada perubahan yaitu  faktor demografi, yang disebabkan oleh perkawinan, kelahiran, kematian dan migrasi. Perubahan karena fakto9r demografis akan menggiring pada perubahan sosial, seperti terjadinya pola pekerjaan, pola makan, pola pendidikan serta berbagai kegiatan kemasyarakatan lainnya.

Demikian  halnya yang terjadi pada teknologi. Revolusi industri yang terjadi di Eropa memberikan dampak yang sangat. Ditemukannya mesin uap yang berubah menjadi alat dalam keperluan sehari-hari, sehingga terjadinya pergerakan penduduk dari pedesaan yang tergeser oleh penggunaan traktor untuk mengolah tanah menjadi buruh di pabrik atau menjual jasa di luar pekerjaan pertanian.

Budaya dikenal pula sebagai penentu (determinant) perubahan sosial. Koentjaraningrat mengelompokkan budaya atas lembaga domestik (contoh : perkawinan, pengasuhan anak), lembaga ekonomi (industri), pendidikan (pendidikan anak, pendidikan tinggi) ilmu pengetahuan (metode ilmiah, penelitian), aestetic dan recreational (kesenian), keagamaan (kenduri, pantangan), politik (partai, demokrasi) serta somatic (kecantikan, kesehatan).

Mc Iver, para sosiolog kontemporer melihat bahwa faktor pentu perubahan sosial tidak merupakan faktor tunggal akan tetapi lebih bersifat ganda dan bersifat rumit. Faktor-faktor yang berinteraksi satu dengan lainnya yaitu geografis, teknologi, ideology,kepemimpinan dan kependudukan.

Faktor geografis. Faktor Geografis akan memberikan pengaruh pada penduduk untuk menciptakan situasi baik yang dirasakan mendukung atau menghambat  pada perubahan. Contohnya yaitu : adanya perubahan suhu, adanya badai, gempa bumi akan menggiring akan pada manusia untuk melakukan perubahan pada pola kehidupan.

Faktor Teknologi, seperti ditemukannya televisi menggiring pada perubahan hubungan dalam keluarga.
Faktor Ideologi. Ideologi akan menjadikan sumber dari keyakinan dan nilai yang sifatnya sangat rumit dan ini terjadi pada semua kelompok masyarakat. Ideologi akan berfungsi sebagai pemelihara keseimbangan dalam suatu masyarakat/status quo.
Faktor Kepemimpinan. Perubahan sosial dalam beberapa hal banyak dirangsang oleh kepemimpinan yang kharismatik yang mampu menghimpun pengikut yang banyak yang akan secara bersama melakukan perubahan sosial.
Faktor Kependudukan. Baik yang berhubungan dengan peningkatan maupun penurunan yang drastis akan mengiring pada perubahan sosial. Peningkatan yang demikian berarti akan menggiring pada manusia teknologi dalam upaya mengimbangi kecepatan pertumbuhan, misalnya terjadi migrasi.


E.     HAMBATAN PERUBAHAN SOSIAL DI NEGARA BERKEMBANG
Dinyatakan oleh Gheddo keterbelakangan sesuatu negara ditandai dengan tiga faktor utama yaitu budaya, rendahnya penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi serta tidak berfungsinya lembaga sosial. Budaya Status Quo merupakan ciri utama negara berkembang yaitu tidak beranjaknya kondisi politik ekonomi dan budaya untuk waktu yang cukup lama.
Dukungan dari perorangan yang memiliki kepedulian pada lembaga sebagai alat memenuhi kepentingan bersama adalah suatu etika baru dalam kehidupan yang dikenal dengan kesepian dalam kehirukpikukan (lonely crowded).
Akibat dari keterbelakangan dikemukakan oleh Koentjaraningrat dalam Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Terdapat variable yang membuat keterbelakangan antara lain berkaitan dengan nilai hidup, nilai tentang waktu, nilai alam, nilai manusia dengan manusia, homo socius makhluk yang hanya bisa hidup wajar dalam hubungan dengan manusia lain.
Orientasi nilai tentang waktu, lebih banyak berorientasi pada waktu lampau dengan membesar-besarkan kesalahan maupun keberuntungan pada waktu yang telah lewat serta tidak melihat bagaimana akibat dari suatu pekerjaan untuk masa yang akan datang.
Penghargaan terhadap nilai alam demikian memprihatinkan. Alam dianggap sebagai pelayan dari manusia.
Nilai tentang manusia harus dilihat dalam hubungan manusia dengan manusia lain secara horizontal dengan mengembangkan kebersamaan serta melepaskan dari pengaruh negatif kemajuan zaman yaitu individualisme salah, dengan beranggapan bisa melepaskan diri dari manusia lainnya.
Koentjaradiningrat mengidentifikasi faktor-faktor revolusi, mentalitas yang meremehkan waktu, mentalitas suka menerabas. Faktor ini selanjutnya melahirkan sifat tidak percaya pada diri sendiri, sifat tidak disiplin murni, sifat tidak bertanggung jawab. Antara penyebab dengan sifat yang diturunkan adalah dua hal yang tidak terpisahkan.
Beling menyatakan keterbelakangan disebabkan oleh sifat dari masyarakat transisi yang tidak ada consensus, ketiadaan partisipasi, lembaga yang tidak memiliki mobilitas dan terpukau oleh pembelaan politik yang terbatas.

F.      TEORI PERUBAHAN SOSIAL
Kita akan mengkaji empat teori mengenai perubahan sosial yaitu : teori evolusi, teori lingkaran, teori keseimbangan dan teori konflik.
Teori Evolusi, melihat masyarakat yang bisa berkembang dari posisi yang sederhana pada situasi yang lebih rumit.
Teori Lingkaran, atau cyclical merupakan pengulangan dan bukan merupakan kemajuan seperti yang dikemukakan oleh teori evolusi.
Teori Keseimbangan memandanng masyarakat terdiri dari bagian-bagian yang memiliki ketergantungan satu dengan lainnya, dimana tiap bagian memiliki sumbangan dalam upaya memelihara kemanfaatan dari masyaraka tersebut.
Teori Konflik, bahwa masyarakat terdiri dari kelompok-kelompok yang senantiasa terjadi konflik satu dengan lainnya.
Adapun dilihat dari perkembangan perubahan sosial berkaitan dengan modernisasi yang mengikuti pola seperti berikut ini.

Social Formation

                                                                   
Primitif
Tradisional
Masyarakat Modern
Kapitalis
Kapitalis Liberal
Kapitalis terorganisasi
Post Kapitalis
Post Modern

Kajian sosiologi dikemukakan oleh Habernas. Menurut Habernas yaitu adanya pergeseran dari kepercayaan yang kuat pada agama dan keyakinan menuju pemikiran yang didasarkan pada filsafat.

G.    PARADIGMA PERUBAHAN SOSIAL
Teori perubahan sosial yang paling banyak dikenal kalangan ilmuwan adalah Perubahan Sosial Paradigma Zaman. Perubahan sosial sebagai upaya terencana menurutnya memiliki lima faktor yang dikenal dengan Lima C. s, yaitu Cause (Penyebab), Changne agency  (Agen perubahan), change strategi (strategi perubahan), channels (saluran), dan change target (target perubahan). Kelima faktor perubahan sosial ini digambarkan dalam alur sebagai berikut :
 




  1. Cause
Kelompok ini dibagi menjadi tiga bagian yaitu 1) bantuan yang ditunjukkan membantu pihak yang terkena dampak (victim), 2) protes yaitu dilakukan dengan cara mengembalikan aturan kelembagaan yang ada dan 3) revolusi, yang dilakukan dengan cara mengganti lembaga yang tidak dikehendaki.
  1. Agen Perubahan
Agen perubahan yaitu organisasi yang berusaha untuk melakukan perubahan sosial.
  1. Target Perubahan
Target perubahan adalah perorangan, kelompok atau lembaga yang ditetapkan sebagai target dari upaya perubahan. Target perubahan adalah orang yang menjadi bidikan dari agen perubahan, dimana target dianggap sebagai tahapan untuk memecahkan permasalahan.
Tujuh tipe dari target perubahan yaitu :
a.           Militan dalam kebenaran, yang berpendapat bahwa negaraku adalah selalu benar, dan aku akan selalu menghadang siapa saja yang mempunyai pikiran yang bertentangan dengan prinsip itu.
b.          Patriot, untuk mereka yang menaruh rasa hormat atas negaranya.
c.           Komitmen empat tahunan, yaitu buat mereka yang memberikan peluang pada penguasa saat ini untuk menjalankan kebijakannya, serta akan menggantinya bila tidak bisa menjalankan tugas.
d.          Perentang paruh waktu, yaitu kelompok yang tidak merasa puas atas penampilan penguasa saat ini, tetapi tidak melakukan usaha dengan waktu penuh untuk menggantinya.
e.           Penggalang perdamaian, yaitu kelompok yang tidak merasa puas dengan penampilan pengambil kebijaksanaan saat ini akan tetapi tidak melawannya melalui upaya demontrasi damai.
f.            Penggalang militan, yaitu kelompok yang tidak puas dan menggalang kekuatan untuk menghadangnya dengan semua cara termasuk dengan cara kekerasan.
g.           Revolusioner, kelompok yang melihat penguasa saat ini demikian rusak dan harus dilakukan penggantian karenanya.

  1. Channel atau Saluran
Fungsi saluran yaitu menjamin bahwa hubungan dengan target bisa dilakukan dengan cara yang lebih hemat dan menilai guna.

  1. Strategi Perubahan
Strategi perubahan adalah konsepsi yang dimiliki agen perubahan yang dipandang sebagai jalan yang paling efektif untuk mempengaruhi sasaran dalam upaya menghasilkan tujuan yang diharapkan.
Secara teoritis terdapat tiga strategi yang umum dipergunakan untuk mempengaruhi sasaran, yaitu koersi, persuasi dan pendidikan.
Strategi koersi diupayakan oleh agen perubahan dalam upaya meningkatkan kerja sama dengan menggunakan sanksi.
Strategi Persuasi, usaha untuk memperkenalkan perilaku yang diharapkan kepada sasaran dengan cara mengidentifikasi objek sosial melalui perubahan keyakinan dan nilai pada sasaran.
Strategi Pendidikan berusaha untuk memperkenalkan perilaku pada sasaran melalui upaya penginternalisasian keyakinan dan nilai baru.

H.    AKSI SOSIAL SEBAGAI ILUSTRASI PERUBAHAN SOSIAL
Aksi sosial yaitu usaha yang dilakukan secara bersama-sama untuk mengatasi permasalahan sosial. Kelompok ini dibagi menjadi tiga bagian yaitu   1) bantuan yang ditunjukkan untuk membantu pihak yang terkena dampak          2) protes yaitu dilakukan dengan cara mengembalikan aturan kelembagaan yang ada dan 3) resolusi, yang dilakukan dengan cara mengganti lembaga yang tidak dikehendaki.

I.       HUBUNGAN PEMBANGUNAN DAN PERUBAHAN SOSIAL
Pembangunan adalah usaha memiliki tujuan, dilakukan secara berencana serta didasarkan pada ideology / filsafat tertentu.
Perubahan sosial memiliki dua kecenderungan. Pertama, perubahan dapat dilihat sebagai fenomena yang terlepas dari program pembangunan. Kedua, perubahan sosial merupakan bagian dari pembangunan, yaitu upaya yang direncanakan oleh seseorang / sekelompok agen perubahan untuk mengnatasi permasalahan tertentu melalui target sasaran dengan menggunakan media dengan menggunakan strategi tertentu.

J.      PENDIDIKAN DALAM MENUNJANG PEMBANGUNAN DAN PERUBAHAN SOSIAL
Pendidikan yang memiliki sumbangan berarti ini ditunjukkan oleh produk pendidikan dilihat dari integritas maupun sumbangannya secara sosial. Seorang terdidik dituntut memiliki kemampuan Knowledgeable, berfikir jernih, kemampuan mengekspresikan diri, memiliki kecanggihan mora dan waktu serta kemampuan untuk survive.


K.    PEMBERDAYAAN
Pendidikan yang mampu memberikan sumbangan yang nyata pada proses pembangunan yaitu pendidikan yang berdaya baik dilihat dari tampilan lembaga pendidikan maupun peserta didik yang berada pada lingkungan pendidikan itu sendiri.

L.     PEMBERDAYAAN PESERTA DIDIK
Menekankan pendidikan sebagai upaya untuk memberikan kekuatan pada peserta didik dikenal dengan pembangunan khusus (another development).
Pembangunan khusus menekankan pada perangkat pembangunan terdiri dari need oriented, endogenous, self relient, encologically sound dan didasarkan pada transformasi struktur sosial.
Selain pemberdayaan memiliki ciri-ciri umum, dalam prosesnya memiliki empat tahapan, yaitu kemampuan kelembagaan, kemmapuan manajemen diri dan kolaborasi, kemampuan partisipasi dan pendidikan untuk keadilan.
Kemampuan kelembagaan ditujukan untuk memberikan kekuatan pada perorangan dan kelompok meningkatkan dan melakukan perubahan lingkungan sosial ekonomi serta posisi masing-masing pada pranata itu.
Kemampuan untuk melakukan manajemen diri dan kolaborasi ditempuh melalui kegiatan partsipasi dalam memuat keputusan dilihat dari tingkatannya maupun isu yang dikembangkan.
Pemberdayaan menuntut pula adanya partisipasi. Tujuan dari pendekatan partisipatif yang memungkinkan adanya kontrol dari pihak peserta yang arah kegiatan ditujukan untuk memenuhi kebutuhan bersama.
Pendidikan untuk keadilan. Penekaannya yaitu penyadaran diri sebagai aspek yang tidak terpisahkan dari proses pemberdayaan.

M.  PENDIDIKAN UNGGUL SEBAGAI PENUNJANG PEMBANGUNAN DAN PERUBAHAN SOSIAL
Dinyatakan oleh Dr. Soedjatmiko (Al) sebagai Rektor United Nation University, bahwa perubahan sosial yang demikian rumit adalah gambaran dari kehidupan masa depan. Maka yang menjadi tuntutan khususnya bagi negara sedang berkembang adalah memberikan arah agar bisa mengurangi dampak negatif dan memanfaatkannya untuk kepentingan pembangunan dan masa depan.
Fien (1993) memberikan sejumlah petunjuk praktis dalam meningkatkan keunggulan lembaga pendidikan, dengan mengembalikan fungsi pendidikan sebagai pemelihara nilai pada pengembang nilai baru, meliputi bidang pengembangan peran sosial pendidikan, pengembangan tujuan pendidikan, pengembangan kurikulum, peran pendidik, peran peserta belajar, proses pengawasan dan penilaian.
Kurikulum yang unggul merupakan penunjang dari pelaksanaan pendidikan yang unggul. Kurikulum demikian harus memiliki fleksibilitas dengan mengintegrasikan kebutuhan masyarakat, lembaga pendidikan dan peserta didik.
Pendidikan unggul dalam hal ini dikembangkan menjadi lima bagian. Pertama, ranah kesadaran yang oleh Paulo Freire dikenal dengan kesadaran diri (conscientization) memberikan penekanan pada kelompok dan perorangan sebagai sumber daya manusia yang harus memiliki kesadaran dan memiliki sensitivitas pada lingkungan dan memecahkan permasalahannya. Kedua, pengetahuan ditujukan pada upaya untuk membantu kelompok maupun perorangan untuk memperoleh pemahaman dasar yang terdapat pada lingkungan serta kerangka permasalahan sosial. Ketiga, sikap yaitu membantu kelompok dan perorangan untuk memperoleh seperangkat nilai dan perasaan yang berhubungan dengan permasalahan sosial serta memiliki motivasi instrinsik yang kuat untuk secara aktif memecahkannya. Keempat, keterampilan yaitu membantu kelompok dan perorangan untuk memperoleh ketrampilan untuk mengidentifikasi dan memecahkan permasalahan sosial. Kelima, yaitu mempersiapkan individu dan perorangan untuk mengambil peluang dan bekerja secara aktif dalam memecahkan permasalahan sosial.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar