Sabtu, 20 Oktober 2012

PENGAMALAN PANCASILA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang Masalah
Pancasila yang telah diterima dan ditetapkan sebagai dasar negara seperti tercantum dalam pembukaan UUD 1945 adalah jiwa seluruh rakyat Indonesia serta merupakan kepribadian dan pandangan hidup bangsa kita, sehingga kita meyakini sedalam-dalamnya akan keampuhan dan kesaktiannya.
Dan lebih dari itu, kita yakin bahwa Pancasila itulah yang dapat memberi kekuatan hidup kepada bangsa Indonesia serta membimbing kita semua dalam mengejar kehidupan lahir dan batin yang makin baik di dalam masyarakat Indonesia yang adil dan makmur. Untuk itu Pancasila wajib kita amalkan dalam kehidupan nyata sehari-hari baik dalam kehidupan pribadi, dalam kehidupan kemasyarakatan maupun dalam kehidupan kenegaraan.

1.2  Rumusan Masalah
Dari uraian diatas dapat kita tarik beberapa Rumusan Masalah :
1.              Apa saja pengamalan sila-sila Pancasila dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat.
2.              Apa saja pengamalan sila Pertama terkait dengan sila-sila yang lain dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara

1.3  Tujuan
Dari Rumusan Masalah diatas dapat ditarik beberapa Tujuan :
1.              Mengetahui Pengamalan Sila-sila Pancasila dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat.
2.              Mengetahui Pengamalan Sila Pertama terkait sila-sila lainnya dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

BAB II

PEMBAHASAN

Pengamalan Sila-sila Pencasila

Sesungguhnyalah sejarah telah mengungkapkan bahwa Pancasila adalah jiwa seluruh rakyat Indonesia yang memberi kekuatan hidup kepada bangsa Indonesia, serta membimbingnya dalam mencapai cita-cita kehidupan lahir batin yang makin baik di dalam masyarakat Indonesia yang adil dan makmur.
Bahwasannya Pancasila yang telah diterima dan ditetapkan sebagai dasar negara seperti tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 merupakan kepribadian dan pandangan hidup bangsa, yang telah diuji kebenarannya, keampuhan dan kesaktiannya, sehingga tak ada satu kekuatan juga yang mampu memisahkan Pancasila dan kehidupan bangsa Indonesia.
Menyadari bahwa untuk kelestarian keampuhan dan kesaktian Pancasila itu, perlu diusahakan secara nyata dan terus menerus penghayatan dan pengamalan nilai-nilai luhur yang setiap penyelenggara negara serta setiap lembaga kenegaraan dan lembaga kemasyarakatan, baik di Pusat maupun di Daerah.
Dengan penghayatan dan pengamalan Pancasila oleh manusia Indonesia akan terasa dan terwujudlah Pancasila dalam kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia.
2.1              Pengalaman sila-sila pancasila dalam kehidupan benegara dab bermasyarakat
2.1.1        Sila Ketuhanan Yang Maha Esa
Dengan sila Ketuhanan Yang Maha Esa, bangsa Indonesia menyatakan kepercayaan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang  Maha Esa dan oleh karenanya manusia Indonesia percaya dan takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
Di dalam kehidupan masyarakat Indonesia dikembangkan sikap hormat menghormat dan bekerjasama antara pemeluk-pemeluk agama dan penganut-penganut kepercayaan yang berbeda-beda, sehingga dapat selalu dibina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Contoh pengamalan dalam masyarakat
a.       Mengadakan tempat ibadah, seperti masjid, gereja, pura dan wihara
b.      Menyantuni masyarakat yang kurang mampu tidak sekadar berbentuk materi, melainkan berbentuk keterampilan dan kalau mungkin keahlian.
c.       Ikut mengentaskan kemiskinan melalui berbagai kegiatan produktif
Sadar bahwa agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha esa adalah masalah yang menyangkut hubungan pribadi dengan Tuhan Yang Maha Esa yang dipercayai dan diyakininya, maka dikembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai agama dan kepercayaannya dan tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaannya itu kepada orang lain.
Dengan rumusan sila Ketuhanan Yang Maha Esa tidak berarti bahwa negara memaksakan agama suatu kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa itu berdasarkan keyakinan, hingga tidak dapat dipaksakan dan memang agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa itu sendiri tidak memaksa setiap manusia untuk memluk dan menganutnya.
Pancasila dan UUD 1945 menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu. Kebabasan agama adalah merupakan salah satu hak yang paling asasi di antara hak-hak asasi manusia, karena kebebasan beragama itu langsung bersumber kepada martabat manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Hak kebebasan beragama bukan pemberian Negara atau bukan pemberian golongan.

2.1.2        Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Dengan sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, manusia diakui dan diperlukan sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagainya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa, yang sama derajatnya, yang sama hak dan kewajiban-kewajiban asasinya, tanpa membeda-bedakan suku, keturunan, agama dan kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya. Karena itu dikembangkanlah sikap saling mencintai sesama mannusia, sikap tenggang rasa dan tepa sliro, serta sikap tidak semena-mena terhadap orang lain.
Kemanusian yang Adil dan Beradab berarti menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, gemar melakukan kegiatan-kegiatan kemanusiaan, dan berani membela kebenaran dan keadilan. Sadar bahwa manusia adalah sederajat, maka bangsa ina merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia, karena itu sikap hormat-menghormati dan bekerjasama dengan bangsa-bangsa lain.

2.1.3        Sila Persatuan Indonesia
Dengan sila Persatuan Indonesia , manusia Indonesia menempatkan persatuan, kesatuan serta kepentingan dan keselamatan Bangsa dan Negara atas kepentingan pribadi atau golongan.
Menempatkan kepentingan Negara dan Bangsa di atas kepentingan pribadi berarti bahwa manusia Indonesia sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan Negara dan Bangsa, apabila diperlukan. Oleh karena sikap rela berkorban untuk kepentingan Negara dan Bangsa itu dilandasi oleh rasa cinta Tanah Air dan Bangsanya, maka dikembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air Indonesia, dalam rangka memelihgara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
Persatuan dikembangkan atas dasar Bhineka Tunggal Ika, dengan memajukan pergaulan demi kesatuan dan persatuan bangsa.
Kesadaran akan semangat kebangsaan, merupakan salah satu ciri dari watak kepribadian bangsa Indonesia. Kita cinta damai tetapi lebih cinta kemerdekaan. Tonggak-tonggak untuk mencapai kemerdekaan itu, melalui proses sejarah, seperti lahirnya kesukuan dalam bentuk Sumpah Pemuda tahun 1928.
Warisan kebudayaan yang berakar pada zaman prasejarah, dengan tingkat peradaban yang sudah maju, diperkaya oleh kebudayaan Hindu, Islam, dan Eropa dalam bentuk ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan kata lain sila Persatuan Indonesia itu terumus secara sadar sebagai kenyataan sosial-budaya bangsa Indonesia.
Keanekaragaman dalam bidang budaya, agama, dan suku bangsa, telah menyjadarkan bahwa keanekaragaman itu hakekatnya bukti kekayaan budaya bangsa yang merupakan kesatuan. Nasionalisme sebagai faham yang meletakkan kepentingan seluruh bangsa sebagai kesatuan sosial-budaya, akhirnya berkembang sebagai kekuatan politik untuk mencapai kemerdekaan. Di samping itu, dengan nasionalisme itu pula, tumbuh kesadaran adanya identitas sebagai bangsa. Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional telah ikut mempersatukan suku-suku menjadi suatu bangsa yang bersatu.
Perwujudan dari sila Persatuan Indonesia terumus dalam :
a.       Doktrin Wawasan Nusantara, yang mencakup perwujudan kepulauan Nusantara sebagai satu kesatuan politik, satu kesatuan sosial dan budaya, satu kesatuan ekonomi dan satu kesatuan pertahanan dan keamanan.
b.      Cara cinta Bangsa, Tanah Air, Kebudayaan, lingkungan hidup serta berhemat dengan kekayaan alam kita, berarti kita telah mengamalkan sebagian dari rasa kecintaan kepada bangsa dan negara.
c.       Ikut memupuk bahasa persatuan yaitu Bahasa Indonesia denga penggunaan dalam ilmu pengetahuan, komunikasi massa, serta komunikasi kebudayaan, dapat membantu terwujudnya sila Persatuan Indonesia dalam kehidupan sehari-hari.
Perilaku yang mencerminkan perwujudan persatuan dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Persatuan dan kesatuan mempunyai arti yang sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Beberapa contoh peristiwa yang terwujud karena adanya persatuan dan kesatuan :
a.       Terwujudnya Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928
b.      Terwujudnya Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945
c.       Pembangunan Indonesia dapat berjalan lancar karena adanya persatuan dan kesatuan seluruh rakyat Indonesia
Beraneka ragam cara yang dapat dilakukan untuk berperan serta dalam membina persatuan dan kesatuan bangsa lain :
a.       Mengembangkan sikap saling menghormati antar suku bangsa
b.      Memupuk sikap toleransi antar umat beragama
c.       Menjaga keamanan dan ketertiban di masyarakat
d.      Mengamalkan nilai-nilai pancasila dalam kehidupan
e.       Memahami dan mewarisi roh Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928

2.1.4        Sila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan
Dengan sila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan, manusia Indonesia sebagai warga negara dan warga masyarakat Indonesia mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama. Dalam menggunakan hak-haknya ia menyadari perlunya selalu memperhatikan dan mengutamakan kepentingan Negara dan kepentingan masyarakat.
Karena mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama, maka pada dasarnya tidak boleh ada suatu kehendak yang dipaksakan kepada pihak lain Sebelum diambil keputusan yang menyangkut kepentingan bersama terlebih dalam diadakan musyawarah. Keputusan diusahakan secara mufakat. Musyawarah untuk mencapai mufakat ini dilipuli oleh semangat kekeluargaan yang merupakan ciri khas bangsa Indonesia.
Maunsia Indonesia menghormati dan menjunjung tinggi setiap hasil keputusan musyawarah, karena ini semua pihak yang bersangkutan harus menerimanya dan melaksanakannya dengan itikad baik dan rasa tanggung iawab. Di sini kepetingan pribadi dan golongan. Pembicaraan dalam musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur. Keputusan-keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai kebenaran dan keadilan, mengutamakan persatuan dan kesatuan, demi kepentingan bersama.
Dalam melaksanakan permusyawaratan, kepercayaan diberikan kepada wakil-wakil yang dipercayanya. Musyawarah untnk mufakat dicapai dalam permusyawaratan wakil-wakil rakyat. Musyawarah sebagai salah satu cara untuk memecahkan persoalan yang dihadapi oleh masyarakat adat, umum dikenal di tanah air kita. Di dalamnya terlihat banyak orang yang mempunyai kepentingan bersama. Dengan demikian yang penting dalam musyawarah ialah pembahasan bersama. Pembahasan bersama di sini adalah dengan maksud untuk mencapai sualu keputusan sebagai penyelesaian dari suatu persoalan bersama.
Kedaulatan adalah di tangan rakyat dan dilakukan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat.  Melalui pemilihan umum,  rakyat memilih wakil-wakilnya yang akan didudukkan dalam badan-badan perwakilan, seperti Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Oleh karena itu, kita hendaknya
memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil rakyat agar mereka dapat bekerja tenang   dan   berwibawa.   Di   samping  itu.   kita  hendaknya  menghormati  dan memelihara wibawa badan-badan  perwakilan itu   sebagai  wadah  yang dapat menjunjung aspirasi masyarakat.     I

2.1.5        Sila Keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia
Dengan sila Keadilan sosial bagi seluruh rakya Indonesia, manusia Indonesia menyadari hak dan kewajiban yang sama untuk menciptakan keadilan sosial dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Dalam rangka ini dikembangkan perbuatan yang luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotong-royongan.
Untuk itu dikembangkan sikap :
1.  Adil terhadap sesama, menjaga kesimbangan anatara hak dan kewajiban serta menghormati hak-hak orang lain.
2.  Sikap suka memberikan pertolongan kepada oang yang memerlukan agar dapat berdiri sendiri. Dengan sikap yang demikian ia tidak menggunakan hak miliknya untuk usaha-usaha yang bersifat pemerasan terhadap orang lain, juga tidak untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan hidup bergaya mewah serta perbuatan-perbuatan lain yang bertentangan dengan atau merugikan kepentingan umum
3.  Sikap suka bekerja keras dan sikap menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat untuk mencapai kemajuan dan kesejahteraan bersama. Kesemuanya itu dilaksanakan dalam rangka perwujudan kemajuan yang merata dan keadilan sosial.
Keadilan dalam kehidupan sosial/kemasyarakatan yang meliputi seluruh Rakyat Indonesia. Dalam kala keadilan terkandung pengertian tidak adanya unsur kesewenang-wenangan. Keadilan dimaksudkan bahwa seseorang bersedia memberikan apa-apa yang menjadi haknya kepada orang lain bila diperlukan. Keadilan mengandung pengertian bahwa orang mengerti dan sadar akan hak dan kewajiban masing-masing, dengan cara mengendalikan dirinya untuk  memeperbesar kewajibannya guna kcpentingan masyarakat. Sosial, hendaknya ditujukan pada suatu sikap yang menyertai keadilan yaitu kesadaran seseorang untuk berbuat sesuatu demi kepentingan bersama, kepentingan masyarakat. Seluruh Rakyat Indonesia berarti sikap orang yang menjadi rakyat Indonesia, baik yang berdiam di wilayah kekuasaan negara Republik Indonesia maupun warga negara Indonesia yang berada di negara lain.
Keadilan dalam kehidiipan sosial/kemasyarakatan terutama meliputi bidang-bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial, kebudayaan, pendidikan, dan pertahanan keamanan nasional. Berarti keadilan sosial hendaknya meliputi segala bidang kehidupan yang ada dan berarti bahwa setiap orang Indonesia mendapat perlakuan yang adil dalam bidang-bidang tersebut.
Cita-cita masyarakat adil dan makmur, materiel dan spiritual yang merata bagi seluruh rakyal Indonesia. Masyarakat yang didambakan oleh rakyat Indonesia selain masyarakat yang adil juga masyarakat yang makmur, baik materiel maupun spiritual. Keadilan tanpa kemakmuran tidak ada artinya. Scbaliknya kemakmuran tanpa disertai keadilan hanya berarti kemakmuran yang dinikmati bagi seluruh rakyat. Adil dan makmur seharusnya mencakup adil Jan makmur materiel dan spiritual yang berkeseimbangan.
Sila pertama menjiwai sila-sila lainnya, artinya tanpa naungan sila pertama (Ketuhanan Yang Maha Esa) sila-sila yang lain akan kehilangan jiwanya. Ini berarti bahwa sila pertama menjadi sumber pokok nilai-nilai kehidupan bangsa Indonesia, sebagai contoh kita dapat melihat dalam kehidupan masyarakat sehari-hari antara lain sebagai berikut.
a.       Bila kita membantu masyarakat yang tertimpa musibah/bencana dengan mengumpulkan materi, tindakan ini merupakan tindakan kemanusiaan yang didasarkan pada keluhuran budi dan pencerminan hati nurani yang sesuai dengan kodrat manusia  sebagai makhluk yang percaya (iman) kepada Tuhan Yang
Maha Esa. Ini berarti sila pertama mendasari perbuatan kita, sekaligus mengamalkan sila kedua.
b.      Kalau kita mengeluarkan resolusi (pernyataan) kepada masyarakat internasional agar perang yang terjadi antara dua negara tertentu segera dihentikan, kita usulkan agar segera diadakan perundingan
damai. Resolusi itu kita buat karena kita memiliki rasa persahabatan antarbangsa sebagai perwujudan sila kedua, tetapi lebih dari itu semua, yaitu untuk memberikan keselamatan kepada semua umat seba­gai makhluk Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini menunjukkan bahwa tindakan kita tetap didasari sila
Ketuhanan Yang Maha Esa.
c.       Bangsa Indonesia yang majemuk ini tetap bersatu dengan bersatu kita dapat membangun misalnya memerangi kemiskinan dan kebodohan. Tindakan ini sesuai sila ketiga yang dijiwai sila pertama dan sila kedua. Sebaliknya kita tidak boleh membuat persatuan untuk melakukan tindakan negatif, sebab bertentangan dengan sila pertama dan kedua. Selanjutnya berilah contch perbuatan yang menunjukkan keterkaitan sila pertama dengan sila keempat dan sila pertama dengan sila kelima.
d.      Sila keempat mengandung arti bahwa negara Indonesia mempunyai kedaulatan, hak, dan kewajiban yang sama. Oleh karena itu, bangsa Indonesia yang besar dan bersatu merupakan keluarga besar dalam negara republik Indonesia. Kekeluargaan, persamaan hak dan kewajiban, musyawarah untuk bersatu, dan tanggung jawab kepada Tuhan merupakan keterkaitan sila keempat dengan sila ketiga, sila kedua, dan sila pertama.
e.       Sila kelima mengandung makna setiap warga negara mempunyai hak dan kewajiban yang sama untuk mewu-judkan keadilan sosial, mengembangkan sikap gotong-royong, kekeluargaan, kerja keras, sederhana, suka membantu orang lain, mengutamakan kepentingan bersama dan adanya keterkaitan sila kelima dengan sila keempat, sila ketiga, sila kedua, dan sila pertama.


BAB III
PENUTUP

3.1              Kesimpulan
Sadar sedalam-dalamnya bahwa Pancasila adalah pandangan hidup bangsa dan negara Republik Indonesia  serta merasakan bahwa Pancasila adalah sumber kejiwaan masyarakat dan negara Republik Indonesia , maka manusia Indonesia menjadikan pengamalan Pancasila sebagai perjuangan utama dalam kehidupan kemasyarakatan dan kehidupan kenegaraan. Oleh karena ituu pengamalannya harus dimulai dari setiap warga negara Indonesia, setiap penyelenggara negara yang secara meluas akan berkembang menjadi pengamalan Pancasila oleh setiap lembaga kenegaraan dan lembaga kemasyarakatan, baik di pusat maupun di daerah.
Dengan demikian Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa dan dasar negara Republik Indonesia  akan mempunyai arti nyata bagi manusia Indonesia dalam hubungannya dengan kehidupan kemasyarakatan dan kenegaraan.

3.2              Saran
Karena merupakan pengamalan Pancasila, maka dalam mewujudkan sikap hidup tadi manusia Indonesia dituntun oleh kelima sila dari Pancasila, oleh rasa Ketuhanan Yang Maha Esa, oleh rasa periemanusiaan yang adil dan beradab, oleh kesadaran untuk memperkokoh persatuan Indonesia, oleh sikap yang menjunjung tinggi kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.


DAFTAR ISI

Halaman

Kata Pengantar ...................................................................................................          
Daftar Isi ............................................................................................................          ii

BAB I      PENDAHULUAN .............................................................................         1
1.1          Latar Belakang Masalah ...........................................................         1
1.2          Rumusan Masalah .....................................................................         1
1.3          Tujuan ......................................................................................          

BAB II     PEMBAHASAN ...............................................................................         2
                2.1 Pengamalan Sila-sila Pancasila dalam kehidupan ............................         2
                      bernegara dan bermasyarakat .......................................................         2
                    2.1.1 Sila Ketuhan Yang Maha Esa .................................................         2
                    2.1.2 Sila Kemanusian Yang Adil dan Beradab ...............................         3
                    2.1.3 Sila Persatuan Indonesia ........................................................         4
                    2.1.4 Sila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan.............................................................................................         6
                    2.1.5 Sila Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia  ..................         7
                2.2 Pengamalan Sila Pertama terkait dengan sila-sila yang lain
                      dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara .............................         9

BAB III    PENUTUP .........................................................................................       11
                3.1 Kesimpulan ..................................................................................       11
                3.2 Saran ...........................................................................................       11

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................       12

i
 

 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar